Sudah hampir 7 bulan aku melepas diri dari sekolah. Hasil dari belajarku selama 3 tahun habis sudah dengan aku yang dinyatakan " LULUS " dari Ujian Nasional yang telah diadakan. Mulai itu juga statusku secara tidak sadar telah berubah, Dari seorang Pelajar menjadi seorang Penganggur hingga kini.
Awalnya aku berpikir, meski kadang membayangkan juga, setelah aku lulus dan menentukan untuk bekerja di hutan beton ( Jakarta ), aku bakal langsung mendapat sebuah pekerjaan yang lumayan menjanjikan dan bisa mengumpulkan hasil dari bekerjaku untuk modal melanjutkan pendidikanku. Tapi sampai sekarang semua jauh dari apa yang aku pikirkan dan bayangkan. Aku masih belum mendapatkan pekerjaan apapun. Sesekali mengikuti Tes untuk masuk kerja, hasilnya sama saja perusahaan yang aku lamar tak bisa menerimaku. Aku merasa perjuangan itu sia-sia. Ijasah yang sekarang aku pegang hasil dari pergelutanku dengan buku tak ada guna.
Sepertinya sekqarang aku sudah terlena dan tenggelam dengan statusku sebagai seorang pengangguran. Bisa dikatakan pasrah atau yang lebih nista yaitu putus asa. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Semua berkas-berkas lamaranku sudah habis dilempar ke sana-sini, ke berbagai perusahaan. Yang ada di pikiranku sekarang untuk melamar pekerjaan lagi rasanya percuma, hasilnya akan sama dengan sebelumnya.
Aku mencoba meratapi nasib, tapi ini akan membuatku stress bahkan bisa juga gila. Dan sekarang aku harus menikmati hari-hariku sebagai seorang pengangguran. Termangu di pembaringan sambil mengahadap televisi sendiri. Sesekali aku menengadahkan tangan kepada ibu berharap diberi sedikit uang untuk menghabiskannya di depan komputer bermain internet. Kala aku sendiri, aku mencoba berpikir mencari ide-ide untuk bisa aku tulis di BLOGku ini, meski terkadang otakku membeku dan jika dihantam martil akan pecah berkeping-keping kepala dan otakku serta berserakan di lantai.
Mungkin bukan hanya aku saja yang mempunyai status pengangguran. Setiap tahun grafik pengangguran akan selalu naik mengingat setiap tahun juga para pelajar akan menjalani Ujian Nasional lalu lulus dan mendapat predikat Pengangguran bagi yang tidak melanjutkan pendidikannya. Jika aku boleh katakan pengangguran itu sudah menjadi jalan setiap tahunnya.
Dan aku hanya berpesan, mungkin beberapa orang yang setelah lulus dan mencari kerja namun tak kunjung dapat akan merasa stress dan putus asa. Orang-orang tersebut juga akan mendapat caci dari orang terdekat karena dibilang selalu menyusahkan saja. Semua itu sudah menjadi jalannya, toh kita juga sudah berusaha maksimal, melamar sana-sini. Dan yang perlu kita pahami adalah bagaimana kita meluruskan semua itu. Meski dikatakan pengangguran tapi kita semua punya alasan kenapa kita jadi pengangguran. Pengangguran itu tak buruk, di balik semua itu pasti kita berpikir bagaimana cara melepaskan status pengangguran. Kita harus yakin bahwa selamanya kita tidak akan menjadi pengangguran. Waktu pasti akan membawa kita terbebas dari status pengangguran.
Tak Ada Tinta
Sebuah karangan yang Bodoh
Cari Blog Ini
Selasa, 02 November 2010
Jumat, 29 Oktober 2010
Istirahatlah Saudaraku
Saudaraku, istirahatlah yang tenang
Do'aku mengikuti hingga bumi
menghentikan rotasinya
Ini bukanlah sebuah akhir
rasakan pembaringanmu yang damai
dalam pelukan-Nya yang hangat
Saudaraku, istirahatlah yang tenang
dan jangan biarkan kami terus berduka
Do'aku mengikuti hingga bumi
menghentikan rotasinya
Ini bukanlah sebuah akhir
rasakan pembaringanmu yang damai
dalam pelukan-Nya yang hangat
Saudaraku, istirahatlah yang tenang
dan jangan biarkan kami terus berduka
Duka Mendalam untuk Indonesiaku
Bumi kembali berdarah
isak tangis membanjiri
bak air bah yang menghantam
Ini bukan karena peperangan
ini maut dari alam yang marah
yang terlantarkan
karena ia sedikit tak disayang
Dengarlah! kabar mayat yang beku
berjuta suara haru membiru
nafas tersekat bencana
Gempa, banjir, Tsunami, gunung meletus
Semua menjeput mereka.
Jasad pedih dibayar tangisan
yang mana menggetarkan bumi kita
menyisakan duka mendalam untuk
Tanah kita, Indonesia
isak tangis membanjiri
bak air bah yang menghantam
Ini bukan karena peperangan
ini maut dari alam yang marah
yang terlantarkan
karena ia sedikit tak disayang
Dengarlah! kabar mayat yang beku
berjuta suara haru membiru
nafas tersekat bencana
Gempa, banjir, Tsunami, gunung meletus
Semua menjeput mereka.
Jasad pedih dibayar tangisan
yang mana menggetarkan bumi kita
menyisakan duka mendalam untuk
Tanah kita, Indonesia
Senin, 25 Oktober 2010
Harmoni Persahabatan
Dan jika kita tegar
Sempailah sudah kita
Menyelesaikan pembangunan
Jembatan ini
Tanah yang aku berdiri
Jauh dari tanahmu
Katakan kau setia
Mengingat segala catatan
Yang pernah kita teguk bersama
Jangan kau sungkan menghujatku
Dengan berjuta kalimat rindu
Biarkan mulutmu memberondong
Sampai kita lupakan dunia
Tapi jangan kau lupa
Kita ada yang punya
Jalan kita tak selalu satu lajur
Ada persimpangan
Kita mesti memencar
Sempailah sudah kita
Menyelesaikan pembangunan
Jembatan ini
Tanah yang aku berdiri
Jauh dari tanahmu
Katakan kau setia
Mengingat segala catatan
Yang pernah kita teguk bersama
Jangan kau sungkan menghujatku
Dengan berjuta kalimat rindu
Biarkan mulutmu memberondong
Sampai kita lupakan dunia
Tapi jangan kau lupa
Kita ada yang punya
Jalan kita tak selalu satu lajur
Ada persimpangan
Kita mesti memencar
Perkenalan
Kepada H.D.W.S
Dari bulan april yang datang kemarau
Kita sudahi keterasingan ini
Terselimuti sudah jiwaku
Dipeluk binarnya mawar merah
Semerbak mengharumkan kelopaknya
Hanya dengan sesaat
Racun itu memenuhi organku.
Tak ada penawar yang ampuh
Selain bayangmu yang sekejap menghilang
Tak bisa kulupakan hari
Yang menakdirkan kau hadir
Tak bisa kulupakan gambarmu
Yang ada di lensa mataku
Dari bulan april yang datang kemarau
Kita sudahi keterasingan ini
Terselimuti sudah jiwaku
Dipeluk binarnya mawar merah
Semerbak mengharumkan kelopaknya
Hanya dengan sesaat
Racun itu memenuhi organku.
Tak ada penawar yang ampuh
Selain bayangmu yang sekejap menghilang
Tak bisa kulupakan hari
Yang menakdirkan kau hadir
Tak bisa kulupakan gambarmu
Yang ada di lensa mataku
Di Pusat Kota Para Pemimpi
Hutan ini sungguh sesak
Satu-satu aku tak mengenal
Wajahnya gelap bak malam
Tak bersinar rembulan
Batang-batang lurus menjulang
Kaku tak memuncak
Ramai para penjejak mimpi
Sepiku masih memeluk
Tambahlah asa mencekik
Turun-naikan kepalaku
Dan aku menanti hingga membusuk
Tak kunjung datang pikirku
Di kota ini
Aku memberontak pada dunia
Biarpun mati sekalian
Aku tetap menantang
Satu-satu aku tak mengenal
Wajahnya gelap bak malam
Tak bersinar rembulan
Batang-batang lurus menjulang
Kaku tak memuncak
Ramai para penjejak mimpi
Sepiku masih memeluk
Tambahlah asa mencekik
Turun-naikan kepalaku
Dan aku menanti hingga membusuk
Tak kunjung datang pikirku
Di kota ini
Aku memberontak pada dunia
Biarpun mati sekalian
Aku tetap menantang
Nafas Takdir
Bau busuk dari hembusanmu
Menelantarkan aku dalam
Malam yang penuh sesal
Menangiskan segala keluhku
Yang bodoh, yang gila
Setiap helai,
Tak memberi kesegaran
Di bawah ancaman dunia
Di gersangnya kehidupan
Mimpi-mimpiku menggunung
Berjuta-juta langkah tindakan
Tak ada kejadian
Hanya omongan sang khayal
Di bawah atap rumah
Aku mengibarkan khayal
Yang hanya buat aku gila
Teriris jarum waktu
Menelantarkan aku dalam
Malam yang penuh sesal
Menangiskan segala keluhku
Yang bodoh, yang gila
Setiap helai,
Tak memberi kesegaran
Di bawah ancaman dunia
Di gersangnya kehidupan
Mimpi-mimpiku menggunung
Berjuta-juta langkah tindakan
Tak ada kejadian
Hanya omongan sang khayal
Di bawah atap rumah
Aku mengibarkan khayal
Yang hanya buat aku gila
Teriris jarum waktu
Langganan:
Postingan (Atom)