Saudaraku, istirahatlah yang tenang
Do'aku mengikuti hingga bumi
menghentikan rotasinya
Ini bukanlah sebuah akhir
rasakan pembaringanmu yang damai
dalam pelukan-Nya yang hangat
Saudaraku, istirahatlah yang tenang
dan jangan biarkan kami terus berduka
Cari Blog Ini
Jumat, 29 Oktober 2010
Duka Mendalam untuk Indonesiaku
Bumi kembali berdarah
isak tangis membanjiri
bak air bah yang menghantam
Ini bukan karena peperangan
ini maut dari alam yang marah
yang terlantarkan
karena ia sedikit tak disayang
Dengarlah! kabar mayat yang beku
berjuta suara haru membiru
nafas tersekat bencana
Gempa, banjir, Tsunami, gunung meletus
Semua menjeput mereka.
Jasad pedih dibayar tangisan
yang mana menggetarkan bumi kita
menyisakan duka mendalam untuk
Tanah kita, Indonesia
isak tangis membanjiri
bak air bah yang menghantam
Ini bukan karena peperangan
ini maut dari alam yang marah
yang terlantarkan
karena ia sedikit tak disayang
Dengarlah! kabar mayat yang beku
berjuta suara haru membiru
nafas tersekat bencana
Gempa, banjir, Tsunami, gunung meletus
Semua menjeput mereka.
Jasad pedih dibayar tangisan
yang mana menggetarkan bumi kita
menyisakan duka mendalam untuk
Tanah kita, Indonesia
Senin, 25 Oktober 2010
Harmoni Persahabatan
Dan jika kita tegar
Sempailah sudah kita
Menyelesaikan pembangunan
Jembatan ini
Tanah yang aku berdiri
Jauh dari tanahmu
Katakan kau setia
Mengingat segala catatan
Yang pernah kita teguk bersama
Jangan kau sungkan menghujatku
Dengan berjuta kalimat rindu
Biarkan mulutmu memberondong
Sampai kita lupakan dunia
Tapi jangan kau lupa
Kita ada yang punya
Jalan kita tak selalu satu lajur
Ada persimpangan
Kita mesti memencar
Sempailah sudah kita
Menyelesaikan pembangunan
Jembatan ini
Tanah yang aku berdiri
Jauh dari tanahmu
Katakan kau setia
Mengingat segala catatan
Yang pernah kita teguk bersama
Jangan kau sungkan menghujatku
Dengan berjuta kalimat rindu
Biarkan mulutmu memberondong
Sampai kita lupakan dunia
Tapi jangan kau lupa
Kita ada yang punya
Jalan kita tak selalu satu lajur
Ada persimpangan
Kita mesti memencar
Perkenalan
Kepada H.D.W.S
Dari bulan april yang datang kemarau
Kita sudahi keterasingan ini
Terselimuti sudah jiwaku
Dipeluk binarnya mawar merah
Semerbak mengharumkan kelopaknya
Hanya dengan sesaat
Racun itu memenuhi organku.
Tak ada penawar yang ampuh
Selain bayangmu yang sekejap menghilang
Tak bisa kulupakan hari
Yang menakdirkan kau hadir
Tak bisa kulupakan gambarmu
Yang ada di lensa mataku
Dari bulan april yang datang kemarau
Kita sudahi keterasingan ini
Terselimuti sudah jiwaku
Dipeluk binarnya mawar merah
Semerbak mengharumkan kelopaknya
Hanya dengan sesaat
Racun itu memenuhi organku.
Tak ada penawar yang ampuh
Selain bayangmu yang sekejap menghilang
Tak bisa kulupakan hari
Yang menakdirkan kau hadir
Tak bisa kulupakan gambarmu
Yang ada di lensa mataku
Di Pusat Kota Para Pemimpi
Hutan ini sungguh sesak
Satu-satu aku tak mengenal
Wajahnya gelap bak malam
Tak bersinar rembulan
Batang-batang lurus menjulang
Kaku tak memuncak
Ramai para penjejak mimpi
Sepiku masih memeluk
Tambahlah asa mencekik
Turun-naikan kepalaku
Dan aku menanti hingga membusuk
Tak kunjung datang pikirku
Di kota ini
Aku memberontak pada dunia
Biarpun mati sekalian
Aku tetap menantang
Satu-satu aku tak mengenal
Wajahnya gelap bak malam
Tak bersinar rembulan
Batang-batang lurus menjulang
Kaku tak memuncak
Ramai para penjejak mimpi
Sepiku masih memeluk
Tambahlah asa mencekik
Turun-naikan kepalaku
Dan aku menanti hingga membusuk
Tak kunjung datang pikirku
Di kota ini
Aku memberontak pada dunia
Biarpun mati sekalian
Aku tetap menantang
Nafas Takdir
Bau busuk dari hembusanmu
Menelantarkan aku dalam
Malam yang penuh sesal
Menangiskan segala keluhku
Yang bodoh, yang gila
Setiap helai,
Tak memberi kesegaran
Di bawah ancaman dunia
Di gersangnya kehidupan
Mimpi-mimpiku menggunung
Berjuta-juta langkah tindakan
Tak ada kejadian
Hanya omongan sang khayal
Di bawah atap rumah
Aku mengibarkan khayal
Yang hanya buat aku gila
Teriris jarum waktu
Menelantarkan aku dalam
Malam yang penuh sesal
Menangiskan segala keluhku
Yang bodoh, yang gila
Setiap helai,
Tak memberi kesegaran
Di bawah ancaman dunia
Di gersangnya kehidupan
Mimpi-mimpiku menggunung
Berjuta-juta langkah tindakan
Tak ada kejadian
Hanya omongan sang khayal
Di bawah atap rumah
Aku mengibarkan khayal
Yang hanya buat aku gila
Teriris jarum waktu
Tuan Berdasi
Tuan berdasi, janganlah kau ngumpet
Semua pelaku hidup sedang terseret
Lembah kesengsaraan yang mepet
Ketika burung jalak membawa kabar
Kau seakan tak mendengar
Mengabaikan jeritan yang terasa hambar
Mulut mereka hampir berbusa
Telingamu harus diberi bisa
Biar kau tau rasa
Tuan berdasi, keluarkan hatimu!
Bersihkan singgasanamu
Dengarlah lidah para rakyatmu
Semua pelaku hidup sedang terseret
Lembah kesengsaraan yang mepet
Ketika burung jalak membawa kabar
Kau seakan tak mendengar
Mengabaikan jeritan yang terasa hambar
Mulut mereka hampir berbusa
Telingamu harus diberi bisa
Biar kau tau rasa
Tuan berdasi, keluarkan hatimu!
Bersihkan singgasanamu
Dengarlah lidah para rakyatmu
Rabu, 13 Oktober 2010
Dunia Hitam
Semua mata terpetik airnya
Membasahi pertiwi
Teriakan demi teriakan
Menyambar bagai guntur
Memecahkan bebatuan
Tarik nafas terakhir
Menghelai meniup dunia
Masuk ke liang lahat
Yang hampa dan pengap
Di datangi para hakim
Bajunya compang-camping
Kanan memegang pecut
Kiri memegang tongkat tajam
Tuhan,
Selamatkan aku!
Dari ganasnya api
Melebur menghanguskan tubuhku.
Membasahi pertiwi
Teriakan demi teriakan
Menyambar bagai guntur
Memecahkan bebatuan
Tarik nafas terakhir
Menghelai meniup dunia
Masuk ke liang lahat
Yang hampa dan pengap
Di datangi para hakim
Bajunya compang-camping
Kanan memegang pecut
Kiri memegang tongkat tajam
Tuhan,
Selamatkan aku!
Dari ganasnya api
Melebur menghanguskan tubuhku.
Selasa, 05 Oktober 2010
Merindunya
Untuk H.D.W.S
Kencana itu datang
Membawa getir-getir rindu
Hatiku makin pilu beku
Sepi sungguh memeluk erat jiwa
Kian sesak aku dipeluknya
Nafasku hingga tersendat
Tempat asing ini
Menelantarkan aku dalam sunyi
Dia jauh
Meninggalkan bayangan
Yang seperti asap
Tertampar angin hilang sudah
Dia makin jauh
Terbawa angin lalang
Kian jauh, jauh, jauh
Tak ada titik henti
Kencana itu datang
Membawa getir-getir rindu
Hatiku makin pilu beku
Sepi sungguh memeluk erat jiwa
Kian sesak aku dipeluknya
Nafasku hingga tersendat
Tempat asing ini
Menelantarkan aku dalam sunyi
Dia jauh
Meninggalkan bayangan
Yang seperti asap
Tertampar angin hilang sudah
Dia makin jauh
Terbawa angin lalang
Kian jauh, jauh, jauh
Tak ada titik henti
Yang Sepi, Yang Bertaka-teki
Kini aku tinggalah aku
Menyaberangi sepi sendiri
Tak ada lagu, tak ada simphoni
Hanya bunyi sepatuku yang dekil
Satu-satu
Mereka pergi memisah
Jalannya pun bersimpangan
Hutan ini sungguh sulit
Aku pecah teka-tekinya
Mungkin di sini aku kan jadi bangkai
Digerogoti kawanan belatung rakus
Dikerubuti pasukan lalat-lalat nakal
Menyaberangi sepi sendiri
Tak ada lagu, tak ada simphoni
Hanya bunyi sepatuku yang dekil
Satu-satu
Mereka pergi memisah
Jalannya pun bersimpangan
Hutan ini sungguh sulit
Aku pecah teka-tekinya
Mungkin di sini aku kan jadi bangkai
Digerogoti kawanan belatung rakus
Dikerubuti pasukan lalat-lalat nakal
Jumat, 01 Oktober 2010
Ini Jakarta
Berjalan aku dari gerbang
Lalu lalang kendaraan
Diantara para pejalan kaki
Gerak langkah para pekerja
Kanan sombong
Kiri sombong
Pohon dan daun ikut sombong
Samapai di perempatan
Seragam cokelat tarik peluit
Atur merah hijau
Masih berjalan
Tiba aku di salah satu gedung
Masuk aku kedalamnya
Hitungan menit keluar
Aku berdiri depan gedung
Entah kanan atau
kiri aku kan melangkah
Inilah Jakarta
Lalu lalang kendaraan
Diantara para pejalan kaki
Gerak langkah para pekerja
Kanan sombong
Kiri sombong
Pohon dan daun ikut sombong
Samapai di perempatan
Seragam cokelat tarik peluit
Atur merah hijau
Masih berjalan
Tiba aku di salah satu gedung
Masuk aku kedalamnya
Hitungan menit keluar
Aku berdiri depan gedung
Entah kanan atau
kiri aku kan melangkah
Inilah Jakarta
Sajak untuk H.D.W.S
Ini detik terakhir kita berjabat
Jika kau mau pandang mataku
dengan dalam pastinya
Carilah apa yang
ingin kau ketahui
Di sini banyak yang tersembunyi
Jangan kau tunda
Aku tinggal untuk selamanya
Sekali waktu nanti
Aku cuma datang dalam tabirmu
Jika kau mau pandang mataku
dengan dalam pastinya
Carilah apa yang
ingin kau ketahui
Di sini banyak yang tersembunyi
Jangan kau tunda
Aku tinggal untuk selamanya
Sekali waktu nanti
Aku cuma datang dalam tabirmu
Aku Gila
Aku orang gila
Yang lidahnya tak henti bicara
Tentang mimpi-mimpi meraya
Aku orang gila
Berjalan dalam fanna
Terbawa angin dalam jiwa
Aku orang gila
Tak peduli sengsara
Biar badai memporak-poranda
Aku orang gila
Tuhanku tak menyapa
Kala aku benar-benar gila
Yang lidahnya tak henti bicara
Tentang mimpi-mimpi meraya
Aku orang gila
Berjalan dalam fanna
Terbawa angin dalam jiwa
Aku orang gila
Tak peduli sengsara
Biar badai memporak-poranda
Aku orang gila
Tuhanku tak menyapa
Kala aku benar-benar gila
Dengan Tangan dan Mulut Terbuka
Dengan tangan terbuka
Aku lepaskan kau
Terbang menembus cakrawala
Hingga terbit bahagiamu
Dengan tangan terbuka
Aku biarkan kau
Menyiulkan simphoni kebencian
Hingga seru nadamu terdengar
Dengan tangan terbuka
Aku bebaskan kau
Menampar dengan tajam lidahmu
Hingga lebam seluruh jiwaku
Kini dengan mulut terbuka
Aku bebas berteriak
La-la-la, cha-cha-cha
Mampus kau dalam manteraku
Aku lepaskan kau
Terbang menembus cakrawala
Hingga terbit bahagiamu
Dengan tangan terbuka
Aku biarkan kau
Menyiulkan simphoni kebencian
Hingga seru nadamu terdengar
Dengan tangan terbuka
Aku bebaskan kau
Menampar dengan tajam lidahmu
Hingga lebam seluruh jiwaku
Kini dengan mulut terbuka
Aku bebas berteriak
La-la-la, cha-cha-cha
Mampus kau dalam manteraku
Langganan:
Postingan (Atom)