Sudah hampir 7 bulan aku melepas diri dari sekolah. Hasil dari belajarku selama 3 tahun habis sudah dengan aku yang dinyatakan " LULUS " dari Ujian Nasional yang telah diadakan. Mulai itu juga statusku secara tidak sadar telah berubah, Dari seorang Pelajar menjadi seorang Penganggur hingga kini.
Awalnya aku berpikir, meski kadang membayangkan juga, setelah aku lulus dan menentukan untuk bekerja di hutan beton ( Jakarta ), aku bakal langsung mendapat sebuah pekerjaan yang lumayan menjanjikan dan bisa mengumpulkan hasil dari bekerjaku untuk modal melanjutkan pendidikanku. Tapi sampai sekarang semua jauh dari apa yang aku pikirkan dan bayangkan. Aku masih belum mendapatkan pekerjaan apapun. Sesekali mengikuti Tes untuk masuk kerja, hasilnya sama saja perusahaan yang aku lamar tak bisa menerimaku. Aku merasa perjuangan itu sia-sia. Ijasah yang sekarang aku pegang hasil dari pergelutanku dengan buku tak ada guna.
Sepertinya sekqarang aku sudah terlena dan tenggelam dengan statusku sebagai seorang pengangguran. Bisa dikatakan pasrah atau yang lebih nista yaitu putus asa. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Semua berkas-berkas lamaranku sudah habis dilempar ke sana-sini, ke berbagai perusahaan. Yang ada di pikiranku sekarang untuk melamar pekerjaan lagi rasanya percuma, hasilnya akan sama dengan sebelumnya.
Aku mencoba meratapi nasib, tapi ini akan membuatku stress bahkan bisa juga gila. Dan sekarang aku harus menikmati hari-hariku sebagai seorang pengangguran. Termangu di pembaringan sambil mengahadap televisi sendiri. Sesekali aku menengadahkan tangan kepada ibu berharap diberi sedikit uang untuk menghabiskannya di depan komputer bermain internet. Kala aku sendiri, aku mencoba berpikir mencari ide-ide untuk bisa aku tulis di BLOGku ini, meski terkadang otakku membeku dan jika dihantam martil akan pecah berkeping-keping kepala dan otakku serta berserakan di lantai.
Mungkin bukan hanya aku saja yang mempunyai status pengangguran. Setiap tahun grafik pengangguran akan selalu naik mengingat setiap tahun juga para pelajar akan menjalani Ujian Nasional lalu lulus dan mendapat predikat Pengangguran bagi yang tidak melanjutkan pendidikannya. Jika aku boleh katakan pengangguran itu sudah menjadi jalan setiap tahunnya.
Dan aku hanya berpesan, mungkin beberapa orang yang setelah lulus dan mencari kerja namun tak kunjung dapat akan merasa stress dan putus asa. Orang-orang tersebut juga akan mendapat caci dari orang terdekat karena dibilang selalu menyusahkan saja. Semua itu sudah menjadi jalannya, toh kita juga sudah berusaha maksimal, melamar sana-sini. Dan yang perlu kita pahami adalah bagaimana kita meluruskan semua itu. Meski dikatakan pengangguran tapi kita semua punya alasan kenapa kita jadi pengangguran. Pengangguran itu tak buruk, di balik semua itu pasti kita berpikir bagaimana cara melepaskan status pengangguran. Kita harus yakin bahwa selamanya kita tidak akan menjadi pengangguran. Waktu pasti akan membawa kita terbebas dari status pengangguran.
Cari Blog Ini
Selasa, 02 November 2010
Jumat, 29 Oktober 2010
Istirahatlah Saudaraku
Saudaraku, istirahatlah yang tenang
Do'aku mengikuti hingga bumi
menghentikan rotasinya
Ini bukanlah sebuah akhir
rasakan pembaringanmu yang damai
dalam pelukan-Nya yang hangat
Saudaraku, istirahatlah yang tenang
dan jangan biarkan kami terus berduka
Do'aku mengikuti hingga bumi
menghentikan rotasinya
Ini bukanlah sebuah akhir
rasakan pembaringanmu yang damai
dalam pelukan-Nya yang hangat
Saudaraku, istirahatlah yang tenang
dan jangan biarkan kami terus berduka
Duka Mendalam untuk Indonesiaku
Bumi kembali berdarah
isak tangis membanjiri
bak air bah yang menghantam
Ini bukan karena peperangan
ini maut dari alam yang marah
yang terlantarkan
karena ia sedikit tak disayang
Dengarlah! kabar mayat yang beku
berjuta suara haru membiru
nafas tersekat bencana
Gempa, banjir, Tsunami, gunung meletus
Semua menjeput mereka.
Jasad pedih dibayar tangisan
yang mana menggetarkan bumi kita
menyisakan duka mendalam untuk
Tanah kita, Indonesia
isak tangis membanjiri
bak air bah yang menghantam
Ini bukan karena peperangan
ini maut dari alam yang marah
yang terlantarkan
karena ia sedikit tak disayang
Dengarlah! kabar mayat yang beku
berjuta suara haru membiru
nafas tersekat bencana
Gempa, banjir, Tsunami, gunung meletus
Semua menjeput mereka.
Jasad pedih dibayar tangisan
yang mana menggetarkan bumi kita
menyisakan duka mendalam untuk
Tanah kita, Indonesia
Senin, 25 Oktober 2010
Harmoni Persahabatan
Dan jika kita tegar
Sempailah sudah kita
Menyelesaikan pembangunan
Jembatan ini
Tanah yang aku berdiri
Jauh dari tanahmu
Katakan kau setia
Mengingat segala catatan
Yang pernah kita teguk bersama
Jangan kau sungkan menghujatku
Dengan berjuta kalimat rindu
Biarkan mulutmu memberondong
Sampai kita lupakan dunia
Tapi jangan kau lupa
Kita ada yang punya
Jalan kita tak selalu satu lajur
Ada persimpangan
Kita mesti memencar
Sempailah sudah kita
Menyelesaikan pembangunan
Jembatan ini
Tanah yang aku berdiri
Jauh dari tanahmu
Katakan kau setia
Mengingat segala catatan
Yang pernah kita teguk bersama
Jangan kau sungkan menghujatku
Dengan berjuta kalimat rindu
Biarkan mulutmu memberondong
Sampai kita lupakan dunia
Tapi jangan kau lupa
Kita ada yang punya
Jalan kita tak selalu satu lajur
Ada persimpangan
Kita mesti memencar
Perkenalan
Kepada H.D.W.S
Dari bulan april yang datang kemarau
Kita sudahi keterasingan ini
Terselimuti sudah jiwaku
Dipeluk binarnya mawar merah
Semerbak mengharumkan kelopaknya
Hanya dengan sesaat
Racun itu memenuhi organku.
Tak ada penawar yang ampuh
Selain bayangmu yang sekejap menghilang
Tak bisa kulupakan hari
Yang menakdirkan kau hadir
Tak bisa kulupakan gambarmu
Yang ada di lensa mataku
Dari bulan april yang datang kemarau
Kita sudahi keterasingan ini
Terselimuti sudah jiwaku
Dipeluk binarnya mawar merah
Semerbak mengharumkan kelopaknya
Hanya dengan sesaat
Racun itu memenuhi organku.
Tak ada penawar yang ampuh
Selain bayangmu yang sekejap menghilang
Tak bisa kulupakan hari
Yang menakdirkan kau hadir
Tak bisa kulupakan gambarmu
Yang ada di lensa mataku
Di Pusat Kota Para Pemimpi
Hutan ini sungguh sesak
Satu-satu aku tak mengenal
Wajahnya gelap bak malam
Tak bersinar rembulan
Batang-batang lurus menjulang
Kaku tak memuncak
Ramai para penjejak mimpi
Sepiku masih memeluk
Tambahlah asa mencekik
Turun-naikan kepalaku
Dan aku menanti hingga membusuk
Tak kunjung datang pikirku
Di kota ini
Aku memberontak pada dunia
Biarpun mati sekalian
Aku tetap menantang
Satu-satu aku tak mengenal
Wajahnya gelap bak malam
Tak bersinar rembulan
Batang-batang lurus menjulang
Kaku tak memuncak
Ramai para penjejak mimpi
Sepiku masih memeluk
Tambahlah asa mencekik
Turun-naikan kepalaku
Dan aku menanti hingga membusuk
Tak kunjung datang pikirku
Di kota ini
Aku memberontak pada dunia
Biarpun mati sekalian
Aku tetap menantang
Nafas Takdir
Bau busuk dari hembusanmu
Menelantarkan aku dalam
Malam yang penuh sesal
Menangiskan segala keluhku
Yang bodoh, yang gila
Setiap helai,
Tak memberi kesegaran
Di bawah ancaman dunia
Di gersangnya kehidupan
Mimpi-mimpiku menggunung
Berjuta-juta langkah tindakan
Tak ada kejadian
Hanya omongan sang khayal
Di bawah atap rumah
Aku mengibarkan khayal
Yang hanya buat aku gila
Teriris jarum waktu
Menelantarkan aku dalam
Malam yang penuh sesal
Menangiskan segala keluhku
Yang bodoh, yang gila
Setiap helai,
Tak memberi kesegaran
Di bawah ancaman dunia
Di gersangnya kehidupan
Mimpi-mimpiku menggunung
Berjuta-juta langkah tindakan
Tak ada kejadian
Hanya omongan sang khayal
Di bawah atap rumah
Aku mengibarkan khayal
Yang hanya buat aku gila
Teriris jarum waktu
Tuan Berdasi
Tuan berdasi, janganlah kau ngumpet
Semua pelaku hidup sedang terseret
Lembah kesengsaraan yang mepet
Ketika burung jalak membawa kabar
Kau seakan tak mendengar
Mengabaikan jeritan yang terasa hambar
Mulut mereka hampir berbusa
Telingamu harus diberi bisa
Biar kau tau rasa
Tuan berdasi, keluarkan hatimu!
Bersihkan singgasanamu
Dengarlah lidah para rakyatmu
Semua pelaku hidup sedang terseret
Lembah kesengsaraan yang mepet
Ketika burung jalak membawa kabar
Kau seakan tak mendengar
Mengabaikan jeritan yang terasa hambar
Mulut mereka hampir berbusa
Telingamu harus diberi bisa
Biar kau tau rasa
Tuan berdasi, keluarkan hatimu!
Bersihkan singgasanamu
Dengarlah lidah para rakyatmu
Rabu, 13 Oktober 2010
Dunia Hitam
Semua mata terpetik airnya
Membasahi pertiwi
Teriakan demi teriakan
Menyambar bagai guntur
Memecahkan bebatuan
Tarik nafas terakhir
Menghelai meniup dunia
Masuk ke liang lahat
Yang hampa dan pengap
Di datangi para hakim
Bajunya compang-camping
Kanan memegang pecut
Kiri memegang tongkat tajam
Tuhan,
Selamatkan aku!
Dari ganasnya api
Melebur menghanguskan tubuhku.
Membasahi pertiwi
Teriakan demi teriakan
Menyambar bagai guntur
Memecahkan bebatuan
Tarik nafas terakhir
Menghelai meniup dunia
Masuk ke liang lahat
Yang hampa dan pengap
Di datangi para hakim
Bajunya compang-camping
Kanan memegang pecut
Kiri memegang tongkat tajam
Tuhan,
Selamatkan aku!
Dari ganasnya api
Melebur menghanguskan tubuhku.
Selasa, 05 Oktober 2010
Merindunya
Untuk H.D.W.S
Kencana itu datang
Membawa getir-getir rindu
Hatiku makin pilu beku
Sepi sungguh memeluk erat jiwa
Kian sesak aku dipeluknya
Nafasku hingga tersendat
Tempat asing ini
Menelantarkan aku dalam sunyi
Dia jauh
Meninggalkan bayangan
Yang seperti asap
Tertampar angin hilang sudah
Dia makin jauh
Terbawa angin lalang
Kian jauh, jauh, jauh
Tak ada titik henti
Kencana itu datang
Membawa getir-getir rindu
Hatiku makin pilu beku
Sepi sungguh memeluk erat jiwa
Kian sesak aku dipeluknya
Nafasku hingga tersendat
Tempat asing ini
Menelantarkan aku dalam sunyi
Dia jauh
Meninggalkan bayangan
Yang seperti asap
Tertampar angin hilang sudah
Dia makin jauh
Terbawa angin lalang
Kian jauh, jauh, jauh
Tak ada titik henti
Yang Sepi, Yang Bertaka-teki
Kini aku tinggalah aku
Menyaberangi sepi sendiri
Tak ada lagu, tak ada simphoni
Hanya bunyi sepatuku yang dekil
Satu-satu
Mereka pergi memisah
Jalannya pun bersimpangan
Hutan ini sungguh sulit
Aku pecah teka-tekinya
Mungkin di sini aku kan jadi bangkai
Digerogoti kawanan belatung rakus
Dikerubuti pasukan lalat-lalat nakal
Menyaberangi sepi sendiri
Tak ada lagu, tak ada simphoni
Hanya bunyi sepatuku yang dekil
Satu-satu
Mereka pergi memisah
Jalannya pun bersimpangan
Hutan ini sungguh sulit
Aku pecah teka-tekinya
Mungkin di sini aku kan jadi bangkai
Digerogoti kawanan belatung rakus
Dikerubuti pasukan lalat-lalat nakal
Jumat, 01 Oktober 2010
Ini Jakarta
Berjalan aku dari gerbang
Lalu lalang kendaraan
Diantara para pejalan kaki
Gerak langkah para pekerja
Kanan sombong
Kiri sombong
Pohon dan daun ikut sombong
Samapai di perempatan
Seragam cokelat tarik peluit
Atur merah hijau
Masih berjalan
Tiba aku di salah satu gedung
Masuk aku kedalamnya
Hitungan menit keluar
Aku berdiri depan gedung
Entah kanan atau
kiri aku kan melangkah
Inilah Jakarta
Lalu lalang kendaraan
Diantara para pejalan kaki
Gerak langkah para pekerja
Kanan sombong
Kiri sombong
Pohon dan daun ikut sombong
Samapai di perempatan
Seragam cokelat tarik peluit
Atur merah hijau
Masih berjalan
Tiba aku di salah satu gedung
Masuk aku kedalamnya
Hitungan menit keluar
Aku berdiri depan gedung
Entah kanan atau
kiri aku kan melangkah
Inilah Jakarta
Sajak untuk H.D.W.S
Ini detik terakhir kita berjabat
Jika kau mau pandang mataku
dengan dalam pastinya
Carilah apa yang
ingin kau ketahui
Di sini banyak yang tersembunyi
Jangan kau tunda
Aku tinggal untuk selamanya
Sekali waktu nanti
Aku cuma datang dalam tabirmu
Jika kau mau pandang mataku
dengan dalam pastinya
Carilah apa yang
ingin kau ketahui
Di sini banyak yang tersembunyi
Jangan kau tunda
Aku tinggal untuk selamanya
Sekali waktu nanti
Aku cuma datang dalam tabirmu
Aku Gila
Aku orang gila
Yang lidahnya tak henti bicara
Tentang mimpi-mimpi meraya
Aku orang gila
Berjalan dalam fanna
Terbawa angin dalam jiwa
Aku orang gila
Tak peduli sengsara
Biar badai memporak-poranda
Aku orang gila
Tuhanku tak menyapa
Kala aku benar-benar gila
Yang lidahnya tak henti bicara
Tentang mimpi-mimpi meraya
Aku orang gila
Berjalan dalam fanna
Terbawa angin dalam jiwa
Aku orang gila
Tak peduli sengsara
Biar badai memporak-poranda
Aku orang gila
Tuhanku tak menyapa
Kala aku benar-benar gila
Dengan Tangan dan Mulut Terbuka
Dengan tangan terbuka
Aku lepaskan kau
Terbang menembus cakrawala
Hingga terbit bahagiamu
Dengan tangan terbuka
Aku biarkan kau
Menyiulkan simphoni kebencian
Hingga seru nadamu terdengar
Dengan tangan terbuka
Aku bebaskan kau
Menampar dengan tajam lidahmu
Hingga lebam seluruh jiwaku
Kini dengan mulut terbuka
Aku bebas berteriak
La-la-la, cha-cha-cha
Mampus kau dalam manteraku
Aku lepaskan kau
Terbang menembus cakrawala
Hingga terbit bahagiamu
Dengan tangan terbuka
Aku biarkan kau
Menyiulkan simphoni kebencian
Hingga seru nadamu terdengar
Dengan tangan terbuka
Aku bebaskan kau
Menampar dengan tajam lidahmu
Hingga lebam seluruh jiwaku
Kini dengan mulut terbuka
Aku bebas berteriak
La-la-la, cha-cha-cha
Mampus kau dalam manteraku
Selasa, 28 September 2010
Thuersday, 28 September 2010
Setelah hampir 4 bulan lamanya, akhirnya kertas-kertas lamaranku menuai pertanda. Kemarin aku mendapat panggilan dari salah satu perusahaan BUMN. Sudah lama aku menantikan ini.
Hari ini. Tepatnya tadi pagi hingga siang mendatangi Kampus UI Salemba-Jakarta. Aku datang di sana untuk menjalani Psikotes yang diadakan oleh perusahaan yang memanggilku. Aku datang di sana pagi jam 7, lebih cepat dari yang dijadwalkan. Sebenarnya tes dimulai jam 8, aku datanglebih awal agar terhindar dari macetnya kota Jakarta.
Karena kampus UI jauh dari tempat tinggalku di daerah Cibubur, aku pun harus menginap di tempat tinggal Kakakku. Yaitu di gudang tempat kerjanya daerah Duren Sawit. Aku memutuskan menginap di sana agar lebih dekat dari kampus UI. Tepatnya kemarin aku menunggu Kakakku yang akan menuju pabrik untuk muat barang Produksi tempatdia bekerja. Kakakku seorang sopir dari salah satu perusahaan air minum. Setiap sore menjelang maghrib pasti dia akan menuju pabrik untuk mrngambil barang produksi. Jam 5 sore kemarin aku menunggunya di depan plaza Cibubur. Aku mengikutinya ke pabrik terlebih dahulu dan menyaksikan proses Produksi disana. Setelah produksi selesai barulah kakakku menancap gasnya menuju gudang dan barang yang dibawa akan dikirim ke para pelanggan esoknya. Sesampainya di gudang aku tak langsung istirahat sempat ngobrol dulu sama orang Gudang. Tak lama kemudian kakakku yang nomer 4 datang ke gudang. Aku punya 5 orang kakak dari 8 bersaudara. Kakakku ke 4 sengaja datang untuk menengokku dan memberi dorongan untuk persiapan Psikotes.
Pagi-pagi sekali aku bangun. Setelah menjalankan ritual solat subuh segeralah aku mempersiapkan diri. Dengan habisnya segelas air susu hangat dan sepotong roti aku pun beranjak pergi. Keberangkatanku diantarkan dengan kuda beroda oleh satpam gudang tempat aku mengeniap. Ya, beruntung masih ada yang mau mengantarkanku. Sesampainya di kampus UI aku sejenak duduk di depan masjid kampus sambil menunggu jam 8 tiba dan sembari berkenalan dengan para calon yang lain serta melihatpara mahasiswa lalu-lalang, keluar-masuk kampus. Aku membayangkan jika aku adalah mereka. Mahasiswa kampus UI. Itu sekedar impianku.
Tepat pukul 07:40 aku menuju ruangan tempat aku tes. Ruanganku ada di ruang 8 Gedung Lembaga Manajemen FEUI. Aku sempat berpetualang mencari ruangan yang ternyata ada di lantai 2. Tak beberama aku menumukan ruanganku, pengawas tes di ruanganku datang. Aku dan peserta lainnya diperintahkan masuk ruangan. Aku terkejut, peserta lain hampir semuanya berpendidikan lebih tinggi dari aku yang hanya lulusan SMA. Sebelumnya orang yang aku kenalpun berpendidikan lebih tinggi dari aku. Meski sedikit Pesimis dan pasrah pada angin takdir, aku tetap menjalani tes.
Setelah pengawas menyapa dan memberikan berbagai instruksi aku pun mulai menerjakan soal tes. Aku harus mengerjakaan deretan soal yang dibilang untuk mengukur kecerdasaanku. Menguras otak kiri. Berkejar dengan waktu dan bersaing dengan peserta lain. Lebih dari 3 jam setelah otak kiri dipaksa bekerja, kini gilir otak kanan bekerja. Aku diberi selembar kertas putih, lalu diperintahkan menggambarkan Rumah, orang dan pohon. Daya inspirasiku untuk menggambar tak begitu luas, jadi menghasilkan gambar yang bisa dibilang sangat buruk.
Selesai sudah Tes berlangsung. Aku sempatkan jalan-jalan menuju toko buku gramedia sekedar membeli buku yang murah. Selepas dari Gramedia aku angkat kaki menuju gudang kakakku lagi untuk menunggu muatan penuh lalu aku ikut nebeng sampe plaza cibubur dan pulang.
Hari ini. Tepatnya tadi pagi hingga siang mendatangi Kampus UI Salemba-Jakarta. Aku datang di sana untuk menjalani Psikotes yang diadakan oleh perusahaan yang memanggilku. Aku datang di sana pagi jam 7, lebih cepat dari yang dijadwalkan. Sebenarnya tes dimulai jam 8, aku datanglebih awal agar terhindar dari macetnya kota Jakarta.
Karena kampus UI jauh dari tempat tinggalku di daerah Cibubur, aku pun harus menginap di tempat tinggal Kakakku. Yaitu di gudang tempat kerjanya daerah Duren Sawit. Aku memutuskan menginap di sana agar lebih dekat dari kampus UI. Tepatnya kemarin aku menunggu Kakakku yang akan menuju pabrik untuk muat barang Produksi tempatdia bekerja. Kakakku seorang sopir dari salah satu perusahaan air minum. Setiap sore menjelang maghrib pasti dia akan menuju pabrik untuk mrngambil barang produksi. Jam 5 sore kemarin aku menunggunya di depan plaza Cibubur. Aku mengikutinya ke pabrik terlebih dahulu dan menyaksikan proses Produksi disana. Setelah produksi selesai barulah kakakku menancap gasnya menuju gudang dan barang yang dibawa akan dikirim ke para pelanggan esoknya. Sesampainya di gudang aku tak langsung istirahat sempat ngobrol dulu sama orang Gudang. Tak lama kemudian kakakku yang nomer 4 datang ke gudang. Aku punya 5 orang kakak dari 8 bersaudara. Kakakku ke 4 sengaja datang untuk menengokku dan memberi dorongan untuk persiapan Psikotes.
Pagi-pagi sekali aku bangun. Setelah menjalankan ritual solat subuh segeralah aku mempersiapkan diri. Dengan habisnya segelas air susu hangat dan sepotong roti aku pun beranjak pergi. Keberangkatanku diantarkan dengan kuda beroda oleh satpam gudang tempat aku mengeniap. Ya, beruntung masih ada yang mau mengantarkanku. Sesampainya di kampus UI aku sejenak duduk di depan masjid kampus sambil menunggu jam 8 tiba dan sembari berkenalan dengan para calon yang lain serta melihatpara mahasiswa lalu-lalang, keluar-masuk kampus. Aku membayangkan jika aku adalah mereka. Mahasiswa kampus UI. Itu sekedar impianku.
Tepat pukul 07:40 aku menuju ruangan tempat aku tes. Ruanganku ada di ruang 8 Gedung Lembaga Manajemen FEUI. Aku sempat berpetualang mencari ruangan yang ternyata ada di lantai 2. Tak beberama aku menumukan ruanganku, pengawas tes di ruanganku datang. Aku dan peserta lainnya diperintahkan masuk ruangan. Aku terkejut, peserta lain hampir semuanya berpendidikan lebih tinggi dari aku yang hanya lulusan SMA. Sebelumnya orang yang aku kenalpun berpendidikan lebih tinggi dari aku. Meski sedikit Pesimis dan pasrah pada angin takdir, aku tetap menjalani tes.
Setelah pengawas menyapa dan memberikan berbagai instruksi aku pun mulai menerjakan soal tes. Aku harus mengerjakaan deretan soal yang dibilang untuk mengukur kecerdasaanku. Menguras otak kiri. Berkejar dengan waktu dan bersaing dengan peserta lain. Lebih dari 3 jam setelah otak kiri dipaksa bekerja, kini gilir otak kanan bekerja. Aku diberi selembar kertas putih, lalu diperintahkan menggambarkan Rumah, orang dan pohon. Daya inspirasiku untuk menggambar tak begitu luas, jadi menghasilkan gambar yang bisa dibilang sangat buruk.
Selesai sudah Tes berlangsung. Aku sempatkan jalan-jalan menuju toko buku gramedia sekedar membeli buku yang murah. Selepas dari Gramedia aku angkat kaki menuju gudang kakakku lagi untuk menunggu muatan penuh lalu aku ikut nebeng sampe plaza cibubur dan pulang.
Minggu, 26 September 2010
Sunday, 26 September 2010
I
Ini blog baruku yang aku buat dua hari yang lalu. Aku pengen banget mencatat dan menyimpan semua tulisanku. Tapi aku bingung mau aku simpan dimana? Akhirnya, setelah aku nemuin ide buat bikin blog ini buat nyimpen semua catatan dan tulisanku. Ternyata mudah juga bikin blog, gak perlu repot-repot banget.
Sekarang aku sudah punya blog. Aku akan mencatat dan menyimpan semua tulisanku. Aku anggap ini tempat buat aku mencurahkan semuanya.
II
Sudah hampir empat bulan hidupku hanya dipenuhi dengan kegiataan yang ini-itu. Mulai dari bangun tudur hanya menyempatkan solat subuh, tidur lagi, jika ada bahan masakan, aku memasak, makan, nonton TV, Browsing, yah membosankan. Sudah hampir empat bulan juga aku hanya memandang ijasahku.
Ya, aku baru saja LULUS sekolah sejak bulan mei. Awalnya setelah aku lulus berniat kerja dan langsung dapat kerjaan. Lalu hasil dari kerja itu aku tabung buat biaya kuliah mendatang. Sebenarnya aku ingin sekali bisa langsung kuliah. Sayang, aku hanya bisa merunduk meratapi keadaan yang bisa dibilang belum ada kesempatan dan kurang begitu cukup. Jadi, aku hanya bisa menahan dan menunggu keajaiban.
Sekarang, aku jadi sosok yang tak jauh beda dengan seorang pengangguran. Beda dengan kakak saya. Dia bekerja disalah satu instabsi yang bisa dibilang bonavit. Dia bekerja dari jam satu sampai sepuluh malam. Sebelum dia berangkat kerja, saya sebagai satu-satunya penghuni yang menganggur harus melayani dia. Menyiapkan sarapan, bekal buat makan dia di tempat kerjanya. Kadang aku jadi tukang cucinya dia. Mencuci segala pakaiannya yang tiap hari menumpuk karena dalam satu hari dia ganti baju sampai dua kali. Kadang aku juga sebel ama dia. Selepas dia pulang kerja kadang dia menengok dan menamparku dengan kata-kata " dasar pengangguran " Mungkin itu bisa menyakitkan, tapi aku abaikan kata itu dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Selanjutnya, dia langsung memerintahku untuk dibikinin minuman hangat ( teh manis ). Aku pun melakukannya.
Entah aku harus berbuat apa lagi. Sudah hampir 20 surat lamaran aku lempar ke berbagai lowongan lapangan pekerjaan. Tapi tak ada satupun yang menunjukan kesempatan itu. Dan kini aku makin tertunduk dan meratapi semua.
Ini blog baruku yang aku buat dua hari yang lalu. Aku pengen banget mencatat dan menyimpan semua tulisanku. Tapi aku bingung mau aku simpan dimana? Akhirnya, setelah aku nemuin ide buat bikin blog ini buat nyimpen semua catatan dan tulisanku. Ternyata mudah juga bikin blog, gak perlu repot-repot banget.
Sekarang aku sudah punya blog. Aku akan mencatat dan menyimpan semua tulisanku. Aku anggap ini tempat buat aku mencurahkan semuanya.
II
Sudah hampir empat bulan hidupku hanya dipenuhi dengan kegiataan yang ini-itu. Mulai dari bangun tudur hanya menyempatkan solat subuh, tidur lagi, jika ada bahan masakan, aku memasak, makan, nonton TV, Browsing, yah membosankan. Sudah hampir empat bulan juga aku hanya memandang ijasahku.
Ya, aku baru saja LULUS sekolah sejak bulan mei. Awalnya setelah aku lulus berniat kerja dan langsung dapat kerjaan. Lalu hasil dari kerja itu aku tabung buat biaya kuliah mendatang. Sebenarnya aku ingin sekali bisa langsung kuliah. Sayang, aku hanya bisa merunduk meratapi keadaan yang bisa dibilang belum ada kesempatan dan kurang begitu cukup. Jadi, aku hanya bisa menahan dan menunggu keajaiban.
Sekarang, aku jadi sosok yang tak jauh beda dengan seorang pengangguran. Beda dengan kakak saya. Dia bekerja disalah satu instabsi yang bisa dibilang bonavit. Dia bekerja dari jam satu sampai sepuluh malam. Sebelum dia berangkat kerja, saya sebagai satu-satunya penghuni yang menganggur harus melayani dia. Menyiapkan sarapan, bekal buat makan dia di tempat kerjanya. Kadang aku jadi tukang cucinya dia. Mencuci segala pakaiannya yang tiap hari menumpuk karena dalam satu hari dia ganti baju sampai dua kali. Kadang aku juga sebel ama dia. Selepas dia pulang kerja kadang dia menengok dan menamparku dengan kata-kata " dasar pengangguran " Mungkin itu bisa menyakitkan, tapi aku abaikan kata itu dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Selanjutnya, dia langsung memerintahku untuk dibikinin minuman hangat ( teh manis ). Aku pun melakukannya.
Entah aku harus berbuat apa lagi. Sudah hampir 20 surat lamaran aku lempar ke berbagai lowongan lapangan pekerjaan. Tapi tak ada satupun yang menunjukan kesempatan itu. Dan kini aku makin tertunduk dan meratapi semua.
Terpendam
Untuk H.D.W.S
Andai kau tahu bagaimana aku?
Aku yang hampir menjadi abu, lebam tertusuk duri
Tak lagi mampu menampung pilu
Terseret meratap mawar yang layu
Kini aku tinggal lenyap di luas bantaran samudera
Entah terapung atau tenggelam
Mungkin juga tertelan perut penghuninya
Tak meninggalkan titik sedikitpun
Andai kau tahu bagaimana aku?
Aku yang hampir menjadi abu, lebam tertusuk duri
Tak lagi mampu menampung pilu
Terseret meratap mawar yang layu
Kini aku tinggal lenyap di luas bantaran samudera
Entah terapung atau tenggelam
Mungkin juga tertelan perut penghuninya
Tak meninggalkan titik sedikitpun
Jumat, 24 September 2010
Pertunjukan Mimpi
Malam aku duduk sendiri di teras depan rumah
Aku pandangi langit hitam
Sekejap menjelma menjadi layar pertunjukan
Pertunjukan mimpi yang baru saja dimulai
Aku meringis menyaksikan itu
Melihat sosok diriku yang jadi pemeran utama
Menjalani segala tuntutan Skenario
Melakukan segala instruksi bayangan sang sutradara
Aku pandangi langit hitam
Sekejap menjelma menjadi layar pertunjukan
Pertunjukan mimpi yang baru saja dimulai
Aku meringis menyaksikan itu
Melihat sosok diriku yang jadi pemeran utama
Menjalani segala tuntutan Skenario
Melakukan segala instruksi bayangan sang sutradara
Buku Kosong
Ini buku kosongku
Pemberian dari yang terkenang
Ini buku kosongku
Terlihat dekil tak terawat
Ini buku kosongku
Tak bersampulkan plastik pembalut
Ini buku kosongku
Tersimpan dalam lemari kenanganku
Pemberian dari yang terkenang
Ini buku kosongku
Terlihat dekil tak terawat
Ini buku kosongku
Tak bersampulkan plastik pembalut
Ini buku kosongku
Tersimpan dalam lemari kenanganku
Rabu, 22 September 2010
Sahabat dan Kenangan
Diantara deretan bangku dan kursi itu-itu saja
Pernah kuukir catatan indah bersamamu
Melukiskan kebersamaan dalam terang dan gelap
Hingga kita terseret dalam pintu perpisahaan
Wahai sahabat
Kau berada jauh di seberang jurang terjal
Yang memisahkan kita diantara semua kenangan
Kini aku tak lagi melihat binar mata berselimut kasih sayang
Kenangan itu kini berselimutkan debu tebal
Bagai serpihan awan menutupi cerah rembulan
Hanya menyisakan potongan-potongan cahaya redup
Tak lagi menampakan wujud manisnya
Wahai sahabat
Kepergianmu bagi asap ditampar angin kencang
Hanya meninggalkan sebuah buku kenangan
Yang aku simpan dalam sampul kehidupan
Pernah kuukir catatan indah bersamamu
Melukiskan kebersamaan dalam terang dan gelap
Hingga kita terseret dalam pintu perpisahaan
Wahai sahabat
Kau berada jauh di seberang jurang terjal
Yang memisahkan kita diantara semua kenangan
Kini aku tak lagi melihat binar mata berselimut kasih sayang
Kenangan itu kini berselimutkan debu tebal
Bagai serpihan awan menutupi cerah rembulan
Hanya menyisakan potongan-potongan cahaya redup
Tak lagi menampakan wujud manisnya
Wahai sahabat
Kepergianmu bagi asap ditampar angin kencang
Hanya meninggalkan sebuah buku kenangan
Yang aku simpan dalam sampul kehidupan
Waktu
I
Entah mengapa waktu tidak mau menunggu?
Dia berlari sangat cepat hingga aku tertinggal,
Bahkan jauh tertinggal
II
Kalau saja waktu kasih kesempatan untuk aku ungkapkan kepadanya
Dia yang hadir diujung perpisahan dulu
dan hatiku benar ingin merengkuh hatinya
III
Waktulah yang mempertemukan kita
meskipun waktu juga yg memisahkan kita
hingga waktu menyampaikan sajak ini untukmu.
Catatan Terbaru
Sekarang akan mulai ku buka halaman awal.
Halaman dari lembaran baru ku.
Lembaran yang akan ku isi dengan hari-hari ku yang yang baru.
Hari-hari untuk menatap luasnya masa depan.
Masa depan yang jauh dari mimpi buruk.
Mimpi buruk yang penuh kabut hitam.
Yang selalu menghalangi pandangan ku.
Aku mau langkah ku bebas.
Maju terus tanpa terjalan yang menyandung.
Aku mau mata ku selalu memandang.
Memandang luasnya kehidupan yang sebenarnya.
Kini catatan baruku akan selalu mengisi hariku.
Kini catatan baruku akan selalu menemani langkahku.
Kini catatan baruku akan selalu menyimpan kenanganku.
Bersama catatan baruku, aku akan jalani hidup.
Halaman dari lembaran baru ku.
Lembaran yang akan ku isi dengan hari-hari ku yang yang baru.
Hari-hari untuk menatap luasnya masa depan.
Masa depan yang jauh dari mimpi buruk.
Mimpi buruk yang penuh kabut hitam.
Yang selalu menghalangi pandangan ku.
Aku mau langkah ku bebas.
Maju terus tanpa terjalan yang menyandung.
Aku mau mata ku selalu memandang.
Memandang luasnya kehidupan yang sebenarnya.
Kini catatan baruku akan selalu mengisi hariku.
Kini catatan baruku akan selalu menemani langkahku.
Kini catatan baruku akan selalu menyimpan kenanganku.
Bersama catatan baruku, aku akan jalani hidup.
Aku Ingin
Kalau saja aku mampu.
Aku ingin seperti penjelajah.
Aku ingin seperti pelaut.
Ah.....
Semacam Vasco Da Gama dan Columbus saja.
Ya....
Memang aku ingin seperti mereka.
Mengarungi Dunia dengan kebebasan tak terbatas.
Mengalahkan angin, ombak dan panas terik matahari.
Hingga terlepas dari jeratan, kerangkeng dan aturan kehidupan.
Gila Mimpi
Inginku pertanyakan sebuah pertanyaan
Apa bedanya orang aneh dengan orang gila?
Mungkin aku yang aneh dan gila
Kenapa juga aku pertanyakan hal seperti itu
Dalam relung,
Mungkin aku sudah benar - benar gila
Gila kerena masuk dalam gerbang mimpi yang busuk
Otakku hanya kenyang dijejali mimpi
Aku dan Budak Setan
Aku dikelilingi para budak setan
Setiap lafal yang mereka sabdakan sungguh busuk
Bahkan lebih busuk dari sampah dapur
Roman yang mereka buat meracuni otak - otak yang penuh bara
...Salah satu diantara mereka mulai membujukku
Tak Sudi aku menjawab
Sajak Terkini
Kini aku terbaring diantara dua pulau
antara mencintai dan dicintai
antara harapan dan ketidak sanggupan
Aku yang jalang ini,
hilang sudah logikaku
tak mampu menampung buihnya
Entah kemana angin kan membwa ku?
dia yang ingin menggapai
atau mungkin dia yang ingin ku gapai
Akan kah aku seperti Ahasveros?
yang berkelana mencari bunga
bunga yang akan mengharumkan hidupnya
antara mencintai dan dicintai
antara harapan dan ketidak sanggupan
Aku yang jalang ini,
hilang sudah logikaku
tak mampu menampung buihnya
Entah kemana angin kan membwa ku?
dia yang ingin menggapai
atau mungkin dia yang ingin ku gapai
Akan kah aku seperti Ahasveros?
yang berkelana mencari bunga
bunga yang akan mengharumkan hidupnya
Langganan:
Postingan (Atom)