Cari Blog Ini

Selasa, 28 September 2010

Thuersday, 28 September 2010

Setelah hampir 4 bulan lamanya, akhirnya kertas-kertas lamaranku menuai pertanda. Kemarin aku mendapat panggilan dari salah satu perusahaan BUMN. Sudah lama aku menantikan ini.

Hari ini. Tepatnya tadi pagi hingga siang mendatangi Kampus UI Salemba-Jakarta. Aku datang di sana untuk menjalani Psikotes yang diadakan oleh perusahaan yang memanggilku. Aku datang di sana pagi jam 7, lebih cepat dari yang dijadwalkan. Sebenarnya tes dimulai jam 8, aku datanglebih awal agar terhindar dari macetnya kota Jakarta.

Karena kampus UI jauh dari tempat tinggalku di daerah Cibubur, aku pun harus menginap di tempat tinggal Kakakku. Yaitu di gudang tempat kerjanya daerah Duren Sawit. Aku memutuskan menginap di sana agar lebih dekat dari kampus UI. Tepatnya kemarin aku menunggu Kakakku yang akan menuju pabrik untuk muat barang Produksi tempatdia bekerja. Kakakku seorang sopir dari salah satu perusahaan air minum. Setiap sore menjelang maghrib pasti dia akan menuju pabrik untuk mrngambil barang produksi. Jam 5 sore kemarin aku menunggunya di depan plaza Cibubur. Aku mengikutinya ke pabrik terlebih dahulu dan menyaksikan proses Produksi disana. Setelah produksi selesai barulah kakakku menancap gasnya menuju gudang dan barang yang dibawa akan dikirim ke para pelanggan esoknya. Sesampainya di gudang aku tak langsung istirahat sempat ngobrol dulu sama orang Gudang. Tak lama kemudian kakakku yang nomer 4 datang ke gudang. Aku punya 5 orang kakak dari 8 bersaudara. Kakakku ke 4 sengaja datang untuk menengokku dan memberi dorongan untuk persiapan Psikotes.

Pagi-pagi sekali aku bangun. Setelah menjalankan ritual solat subuh segeralah aku mempersiapkan diri. Dengan habisnya segelas air susu hangat dan sepotong roti aku pun beranjak pergi. Keberangkatanku diantarkan dengan kuda beroda oleh satpam gudang tempat aku mengeniap. Ya, beruntung masih ada yang mau mengantarkanku. Sesampainya di kampus UI aku sejenak duduk di depan masjid kampus sambil menunggu jam 8 tiba dan sembari berkenalan dengan para calon yang lain serta melihatpara mahasiswa lalu-lalang, keluar-masuk kampus. Aku membayangkan jika aku adalah mereka. Mahasiswa kampus UI. Itu sekedar impianku.

Tepat pukul 07:40 aku menuju ruangan tempat aku tes. Ruanganku ada di ruang 8 Gedung Lembaga Manajemen FEUI. Aku sempat berpetualang mencari ruangan yang ternyata ada di lantai 2. Tak beberama aku menumukan ruanganku, pengawas tes di ruanganku datang. Aku dan peserta lainnya diperintahkan masuk ruangan. Aku terkejut, peserta lain hampir semuanya berpendidikan lebih tinggi dari aku yang hanya lulusan SMA. Sebelumnya orang yang aku kenalpun berpendidikan lebih tinggi dari aku. Meski sedikit Pesimis dan pasrah pada angin takdir, aku tetap menjalani tes.

Setelah pengawas menyapa dan memberikan berbagai instruksi aku pun mulai menerjakan soal tes. Aku harus mengerjakaan deretan soal yang dibilang untuk mengukur kecerdasaanku. Menguras otak kiri. Berkejar dengan waktu dan bersaing dengan peserta lain. Lebih dari 3 jam setelah otak kiri dipaksa bekerja, kini gilir otak kanan bekerja. Aku diberi selembar kertas putih, lalu diperintahkan menggambarkan Rumah, orang dan pohon. Daya inspirasiku untuk menggambar tak begitu luas, jadi menghasilkan gambar yang bisa dibilang sangat buruk.

Selesai sudah Tes berlangsung. Aku sempatkan jalan-jalan menuju toko buku gramedia sekedar membeli buku yang murah. Selepas dari Gramedia aku angkat kaki menuju gudang kakakku lagi untuk menunggu muatan penuh lalu aku ikut nebeng sampe plaza cibubur dan pulang.

Minggu, 26 September 2010

Sunday, 26 September 2010

I

Ini blog baruku yang aku buat dua hari yang lalu. Aku pengen banget mencatat dan menyimpan semua tulisanku. Tapi aku bingung mau aku simpan dimana? Akhirnya, setelah aku nemuin ide buat bikin blog ini buat nyimpen semua catatan dan tulisanku. Ternyata mudah juga bikin blog, gak perlu repot-repot banget.

Sekarang aku sudah punya blog. Aku akan mencatat dan menyimpan semua tulisanku. Aku anggap ini tempat buat aku mencurahkan semuanya.

II

Sudah hampir empat bulan hidupku hanya dipenuhi dengan kegiataan yang ini-itu. Mulai dari bangun tudur hanya menyempatkan solat subuh, tidur lagi, jika ada bahan masakan, aku memasak, makan, nonton TV, Browsing, yah membosankan. Sudah hampir empat bulan juga aku hanya memandang ijasahku.

Ya, aku baru saja LULUS sekolah sejak bulan mei. Awalnya setelah aku lulus berniat kerja dan langsung dapat kerjaan. Lalu hasil dari kerja itu aku tabung buat biaya kuliah mendatang. Sebenarnya aku ingin sekali bisa langsung kuliah. Sayang, aku hanya bisa merunduk meratapi keadaan yang bisa dibilang belum ada kesempatan dan kurang begitu cukup. Jadi, aku hanya bisa menahan dan menunggu keajaiban.

Sekarang, aku jadi sosok yang tak jauh beda dengan seorang pengangguran. Beda dengan kakak saya. Dia bekerja disalah satu instabsi yang bisa dibilang bonavit. Dia bekerja dari jam satu sampai sepuluh malam. Sebelum dia berangkat kerja, saya sebagai satu-satunya penghuni yang menganggur harus melayani dia. Menyiapkan sarapan, bekal buat makan dia di tempat kerjanya. Kadang aku jadi tukang cucinya dia. Mencuci segala pakaiannya yang tiap hari menumpuk karena dalam satu hari dia ganti baju sampai dua kali. Kadang aku juga sebel ama dia. Selepas dia pulang kerja kadang dia menengok dan menamparku dengan kata-kata " dasar pengangguran " Mungkin itu bisa menyakitkan, tapi aku abaikan kata itu dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Selanjutnya, dia langsung memerintahku untuk dibikinin minuman hangat ( teh manis ). Aku pun melakukannya.

Entah aku harus berbuat apa lagi. Sudah hampir 20 surat lamaran aku lempar ke berbagai lowongan lapangan pekerjaan. Tapi tak ada satupun yang menunjukan kesempatan itu. Dan kini aku makin tertunduk dan meratapi semua.

Terpendam

Untuk H.D.W.S

Andai kau tahu bagaimana aku?
Aku yang hampir menjadi abu, lebam tertusuk duri
Tak lagi mampu menampung pilu
Terseret meratap mawar yang layu

Kini aku tinggal lenyap di luas bantaran samudera
Entah terapung atau tenggelam
Mungkin juga tertelan perut penghuninya
Tak meninggalkan titik sedikitpun

Jumat, 24 September 2010

Pertunjukan Mimpi

Malam aku duduk sendiri di teras depan rumah
Aku pandangi langit hitam
Sekejap menjelma menjadi layar pertunjukan
Pertunjukan mimpi yang baru saja dimulai

Aku meringis menyaksikan itu
Melihat sosok diriku yang jadi pemeran utama
Menjalani segala tuntutan Skenario
Melakukan segala instruksi bayangan sang sutradara

Buku Kosong

Ini buku kosongku
Pemberian dari yang terkenang

Ini buku kosongku
Terlihat dekil tak terawat

Ini buku kosongku
Tak bersampulkan plastik pembalut

Ini buku kosongku
Tersimpan dalam lemari kenanganku

Rabu, 22 September 2010

Sahabat dan Kenangan

Diantara deretan bangku dan kursi itu-itu saja
Pernah kuukir catatan indah bersamamu
Melukiskan kebersamaan dalam terang dan gelap
Hingga kita terseret dalam pintu perpisahaan

Wahai sahabat
Kau berada jauh di seberang jurang terjal
Yang memisahkan kita diantara semua kenangan
Kini aku tak lagi melihat binar mata berselimut kasih sayang

Kenangan itu kini berselimutkan debu tebal
Bagai serpihan awan menutupi cerah rembulan
Hanya menyisakan potongan-potongan cahaya redup
Tak lagi menampakan wujud manisnya

Wahai sahabat
Kepergianmu bagi asap ditampar angin kencang
Hanya meninggalkan sebuah buku kenangan
Yang aku simpan dalam sampul kehidupan

Waktu

I
Entah mengapa waktu tidak mau menunggu?
Dia berlari sangat cepat hingga aku tertinggal,
Bahkan jauh tertinggal


II
Kalau saja waktu kasih kesempatan untuk aku ungkapkan kepadanya
Dia yang hadir diujung perpisahan dulu
dan hatiku benar ingin merengkuh hatinya

III
Waktulah yang mempertemukan kita
meskipun waktu juga yg memisahkan kita
hingga waktu menyampaikan sajak ini untukmu.

Catatan Terbaru

Sekarang akan mulai ku buka halaman awal.
Halaman dari lembaran baru ku.
Lembaran yang akan ku isi dengan hari-hari ku yang yang baru.
Hari-hari untuk menatap luasnya masa depan.
Masa depan yang jauh dari mimpi buruk.
Mimpi buruk yang penuh kabut hitam.
Yang selalu menghalangi pandangan ku.

Aku mau langkah ku bebas.
Maju terus tanpa terjalan yang menyandung.
Aku mau mata ku selalu memandang.
Memandang luasnya kehidupan yang sebenarnya.

Kini catatan baruku akan selalu mengisi hariku.
Kini catatan baruku akan selalu menemani langkahku.
Kini catatan baruku akan selalu menyimpan kenanganku.
Bersama catatan baruku, aku akan jalani hidup.

Aku Ingin

Kalau saja aku mampu.
Aku ingin seperti penjelajah.
Aku ingin seperti pelaut.
Ah.....
Semacam Vasco Da Gama dan Columbus saja.

Ya....
Memang aku ingin seperti mereka.
Mengarungi Dunia dengan kebebasan tak terbatas.
Mengalahkan angin, ombak dan panas terik matahari.
Hingga terlepas dari jeratan, kerangkeng dan aturan kehidupan.

Gila Mimpi

Inginku pertanyakan sebuah pertanyaan
Apa bedanya orang aneh dengan orang gila?
Mungkin aku yang aneh dan gila
Kenapa juga aku pertanyakan hal seperti itu

 

Dalam relung,
Mungkin aku sudah benar - benar gila
Gila kerena masuk dalam gerbang mimpi yang busuk
Otakku hanya kenyang dijejali mimpi

Aku dan Budak Setan

Aku dikelilingi para budak setan
Setiap lafal yang mereka sabdakan sungguh busuk
Bahkan lebih busuk dari sampah dapur

Roman yang mereka buat meracuni otak - otak yang penuh bara
...Salah satu diantara mereka mulai membujukku
Tak Sudi aku menjawab

Sajak Terkini

Kini aku terbaring diantara dua pulau
antara mencintai dan dicintai
antara harapan dan ketidak sanggupan

Aku yang jalang ini,
hilang sudah logikaku
tak mampu menampung buihnya

Entah kemana angin kan membwa ku?
dia yang ingin menggapai
atau mungkin dia yang ingin ku gapai

Akan kah aku seperti Ahasveros?
yang berkelana mencari bunga
bunga yang akan mengharumkan hidupnya